Pandemi, Harga Obat dan Produk Kesehatan Naik

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan, ada sejumlah komoditas dan kelompok pengeluaran menyebabkan terjadinya inflasi di Indonesia sebesar 0,08 persen sepanjang Juli 2021.

Kepala BPS, Margo Yuwono mengatakan, dari 11 kelompok pengeluaran, 2 diantaranya mengalami deflasi. Sedangkan sisanya 9 kelompok pengeluaran mengalami inflasi.

“Transportasi mengalami deflasi 0,01 persen, dimana andilnya relatif kecil. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi 0,07 persen dan andilnya relatif kecil terhadap inflasi di Juli 2021,” kata Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (2/8/2021).

Ia menjelaskan, 7 pengeluaran lainnya mengalami inflasi, dimana inflasi terbesar terjadi pada kelompok pengeluaran kesehatan. Kelompok pengeluaran kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,24 persen di mana andilnya terhadap inflasi bulan Juli 2021 sebesar 0,01 persen

Menurutnya, kelompok inflasi dari pengeluaran makanan minuman dan tembakau mengalami inflasi 0,15 persen dan memiliki andil terhadap inflasi Juli 2021 sebesar 0,04 persen.

“Dilihat dari komoditas yang paling dominan dari kelompok ini yang memberikan andil atau sumbangan yaitu berasal dari cabai rawit sebesar 0,03 persen,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan cabai rawit memiliki andil 0,03 persen. Komoditas lain di kelompok bahan makanan minuman dan tembakau mengalami kenaikan harga yaitu tomat, bawang merah, cabai merah dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen.

Ia mengatakan ada juga beberapa komoditas yang menahan atau menghambat laju inflasi, diantaranya komoditas daging ayam ras, beras, telor ayam ras, dan emas perhiasan.

Ia menjelaskan, jika dikaitkan dengan kebijakan PPKM pada sejak 3 Juli 2021, maka kelompok kesehatan mengalami inflasi yang paling tinggi sebesar 0,24 persen dan memiliki andil sekitar 0,01 persen.

Ia menambahkan, dilihat dari sub-kelompok pada kelompok kesehatan yang harganya naik adalah pada sub kelompok obat-obatan dan produk kesehatan sebesar 0,47 persen.

Sementara yang mengalami inflasi terendah adalah sub-kelompok jasa rawat jalan sebesar 0,06 persen.

“Harga obat dan produk kesehatan lainnya mengalami kenaikan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 3.2 Persen

Wed Oct 13 , 2021
Jakarta: Dana Moneter Internasional (IMF) merilis World Economic Outlook edisi Oktober 2021. Dalam laporannya itu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2021 sebesar 5.9 persen, menurun dibandingkan proyeksi di bulan Juli dimana IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini sebesar 6 persen. Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu […]